gambar-04

Sebulan sudah aku menjalani status sebagai mahasiswa dan meninggalkan suami di kampung. Berbeda dengan pasangan yang baru menikah dan terpisah jauh, umumnya mereka memikirkan kebutuhan sex-nya. Aku tidak! Karena sampai hari ini aku belum pernah merasakan nikmatnya bersenggama. Bagiku biasa aja, namun beda dengan suamiku, biasanya untuk memuaskan hasratnya kami melakukan telepon sex. Seakan-akan kita sedang bersetubuh tapi lewat telepon. Disana dia beronani sedangkan aku berpura-pura saja, yang penting suamiku senang.

Angapanku tentang sex tidak berubah banyak sampai suatu hari aku berkenalan dengan seorang lelaki bernama Ridwan (bukan nama asli) ia seorang kontraktor yang kebetulan sedang melakukan perbaikkan jalan di depan tempat kost-ku. Sebagai laki-laki lainnya, jika melhatku pasti mereka akan menatap melotot. Aku tidak tahu pasti kenapa begitu karena menurutku aku berpakaian selalu sopan dengan menggunakan rok sampai lutut. O…. iya tidak terlaku suka menggunakan celane jeans karena menurutku gerah. Tapi yang pasti aku tinggi semampai dan cantik (tidak lupa kulitku mulus dengan warna seperti ubi kayu yang telah dikupas kulitnya) selain itu, aku tidak tahu mengapa setiap laki-laki yang melihatku begitu “berhasrat”.

Kenapa bang??? Ngeliat aku sampe melotot gitu?” tanyaku membuyarkan khayalannya.

Ah.. gak… oh heran saja, lihat orang cina kos di tempat seperti ini?” Ridwan mencoba menjelaskan keherannya

Emang orang cina gak boleh kos di tempat seperti ini yah? Lagian saya bukan Ciba tapi orang Manado” kataku menegaskan.

Ohh.. pantas putih skali, kaya keturunan Tionghoa

Perkenalan singkat ini, berujung pada keramahan Ridwan setiap bertemu aku. Ia selalu menyapa “heii. Orang Menado”

Seperti pagi itu ia menyapaku dengan panggilan “orang Menado”

“bukan Menado tapi Manado bang” kataku untuk meluruskan cara penyebutan kota kelahiranku

“O.. iya maaf” kata Ridwan dengan senyumnya yang mengembang ramah

“Bang lebih panggil saya Vidya aja, daripada panggil Manado”

“aku Ridwan” katanya sambil mengulurkan tangan sebagai tanda persahabatan.

Sejak itu Ridwan semakin dekat sampai suatu saat ia mengajakku makan di sebuah rumah makan di tepi pantai.

“Vidya, mau gak kita jalan keluar kota”

“jalan kemana bang?”

“ke arah pelabuhan Donggala, kita nyari makan di sana”

“Boleh aja Bang tapi lihat waktu luangku yah?” kataku (sebetulnya aku menghindar agar tidak jalan dengan dia soalnya gak enak, karena aku sudah bersuami)

101% FREE DOWNLOADS KLIK DI SINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: